Jangan Hamburkan Uang Beli Suplemen, Baca 9 Tips Ini!

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Popularitas suplemen untuk kesehatan rambut, kuku, dan kulit semakin meroket dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun demikian, masih banyak orang yang mempertanyakan efektivitas suplemen berupa kapsul, serbuk, minuman, bahkan gummy ini.

Baru-baru ini, para ahli gizi, dokter, dermatologis, dan ahli lainnya mengungkapkan sederet fakta terkait suplemen kesehatan yang wajib diketahui oleh masyarakat.

Lantas, apa saja hasil diskusi dari para ahli terkait suplemen kesehatan? Berikut rangkumannya, melansir dari CNBC Make It.

1. Tidak Perlu Beli Biotin dan Kolagen

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar suplemen rambut, kulit, dan kuku yang beredar di masyarakat mengandung lebih banyak biotin daripada yang dibutuhkan oleh tubuh.

“Mengonsumsi terlalu banyak biotin dapat mengubah hasil tes kesehatan, seperti tes tiroid, tes jantung, dan tes vitamin D,” ujar asisten profesor dermatologi di Harvard Medical School, Dr. Rebecca Hartman, dikutip Senin (1/1/2024).

Menurut Dr. Rebecca, alih-alih mengonsumsi suplemen tambahan, cara terbaik untuk memperoleh biotin dan kolagen adalah dengan cara alami.

Cara alami untuk memperoleh biotin dan kolagen adalah melalui pola makan seimbang dan mengonsumsi makanan tinggi biotin dan kolagen, seperti kacang-kacangan dan produk susu, terutama kuning telur.

2. Magnesium Tidak Memperbaiki Kualitas Tidur

Menurut psikolog klinis berlisensi dan direktur kesehatan tidur di Sleepopolis, Shelby Harris, suplemen magnesium tidak akan membantu seseorang untuk lebih mudah tertidur, kecuali jika memang kekurangan asupan magnesium.

Faktanya, terlalu banyak mengonsumsi magnesium dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan menyebabkan efek samping, seperti detak jantung tidak teratur atau masalah ginjal.

Alih-alih mengonsumsi suplemen magnesium, Anda bisa memperoleh mineral dari makanan sehari-hari, yakni dengan rutin mengonsumsi bayam, selai kacang, dan pisang.

3. Berberin Mampu Turunkan Berat Badan

Beberapa waktu belakangan ini, berberin disebut sebagai “ozempic alam” di TikTok. Adapun, ozempic yang dimaksud adalah senyawa alami di beberapa tanaman dan dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah serta menurunkan berat badan.

Dokter pengobatan regeneratif dan umur panjang, Neil Paulvin menyebutkan bahwa berberin tidak seefektif ozempic untuk menurunkan berat badan.

4. Lumut Laut Kaya Nutrisi

Ahli gizi diet, Samar Kullab, mengungkapkan bahwa lumut laut kaya akan nutrisi dan mengandung vitamin A, C dan E serta beberapa vitamin B.

Kullab mengatakan, mengonsumsi satu sendok gel lumut laut sehari dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan fungsi tiroid serta meningkatkan kesehatan jantung dan usus. Namun, orang yang memiliki masalah tiroid sebaiknya menghindari konsumsi lumut laut.

5. Multivitamin Tidak Selalu Diperlukan

Ahli penyakit dalam dan direktur medis dari UCLA Health Integrative Medicine Collaborative, Dr. Elizabeth Ko, mengatakan bahwa suplemen multivitamin tidak dibutuhkan jika Anda rutin mengonsumsi makanan yang tepat dan kaya vitamin.

Menurut Dr. Ko, diet Mediterania yang kaya kacang-kacangan, biji-bijian, buah-buahan segar, dan sayuran dapat membantu seseorang untuk mendapatkan nutrisi multivitamin.

Adapun, menambahkan multivitamin ke dalam menu harian dapat diutamakan bagi vegan, vegetarian, orang dengan masalah perut, atau orang yang kekurangan nutrisi.

6. Vitamin C dan D Tidak Selalu Ampuh untuk Perkuat Imun

Vitamin C dan D mampu meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Namun, ada sejumlah penemuan yang menyebutkan bahwa efektivitas suplemen vitamin D lebih tinggi dibanding vitamin C.

Menurut dokter spesialis penyakit menular dan direktur medis asosiasi Epidemiologi Rumah Sakit di Cedars-Sinai Medical Center, Michael Ben-Aderet, suplemen bekerja paling baik bagi orang yang kekurangan vitamin C atau vitamin D.

Sementara itu bagi orang sehat yang ingin meningkatkan sistem kekebalan tubuh, Ben-Aderet menyarankan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang, berolahraga, memprioritaskan tidur, dan melakukan vaksinasi.

7. Taurin Perlu Uji Klinis Lebih Lanjut

Taurin adalah asam amino yang diproduksi secara alami oleh manusia dan sedang dipelajari potensi efek anti penuaannya. Meskipun dinilai menjanjikan, taurin hanya terbukti meningkatkan umur panjang pada tikus.

Hingga saat ini, masih belum diketahui apakah ada efek samping jangka panjang dari mengonsumsi suplemen taurin.

“Suplemen anti penuaan yang paling baik adalah olahraga, terutama olahraga intensitas tinggi dengan beban, tiga kali seminggu,” ujar Paulvin.

“Selain itu, Anda juga harus mengoptimalkan tidur dan ritme sirkadian,” imbuhnya.

8. Efektivitas Suplemen Kunyit

Ko mengungkapkan bahwa sebagian besar suplemen kunyit memiliki persentase kurkumin yang sangat kecil, yakni hanya sekitar dua hingga enam persen. Maka dari itu, ia menyebut bahwa suplemen kunyit masih belum terlalu cukup.

“Jika ada pilihan antara suplemen kunyit dan suplemen kurkumin, saya akan memilih kurkumin,” kata Ko.

“Konsumsi suplemen kurkumin dengan lada hitam dan lemak sehat ,seperti yogurt untuk mendapatkan manfaat maksimal bagi kesehatan,” imbuhnya.

9. Ashwagandha Efektif Atasi Stres

Ashwagandha adalah bahan pokok dalam pengobatan Ayurveda yang telah digunakan selama ribuan tahun. Manfaat terkuat dari penggunaan ramuan ini adalah menghilangkan stres dan manajemen kecemasan.

Namun, dokter pengobatan integratif di UCLA Health dan praktisi Ayurveda bersertifikat, Dr. Meena Makhijani, mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengonsumsi ashwagandha adalah berhenti setiap tiga bulan atau lebih.

“Jika digunakan dengan cara benar, ashwagandha akan sangat bermanfaat bagi kebanyakan orang [untuk beristirahat],” kata Makhijani. https://berharaplahlagi.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*